BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
Ma'na KHaatamun Nabiyyiin dalam (s. Al Ahzab, 33:40).
oleh H.Muh.Nur Abdurrahman
Bahasa Al Quran adalah bahasa Arab yang dipakai dalam Al Quran, itu yang disebut Qur.a-nun 'Arabiyyun: Innaa anzalnaahu qur.aanan 'arabiyyan la'allakum ta'qiluwn (S.Yu-suf, 2). Bahasa Al Quran adalah bahasa untuk mengkomunikasikan / membumikan wahyu kepada ummat manusia. Jadi bahasa Al Quran itu jangan diidentikkan dengan bahasa Arab-budaya. Bahasa Arab-budaya mengalami dinamika perubhan ma'na dengan bertumbuhnya kebudayaan. Bahasa Al Quran adalah bahasa baku yang kata-kata di dalamnya tidak mengalami perubahan ma'na.
oleh H.Muh.Nur Abdurrahman
Bahasa Al Quran adalah bahasa Arab yang dipakai dalam Al Quran, itu yang disebut Qur.a-nun 'Arabiyyun: Innaa anzalnaahu qur.aanan 'arabiyyan la'allakum ta'qiluwn (S.Yu-suf, 2). Bahasa Al Quran adalah bahasa untuk mengkomunikasikan / membumikan wahyu kepada ummat manusia. Jadi bahasa Al Quran itu jangan diidentikkan dengan bahasa Arab-budaya. Bahasa Arab-budaya mengalami dinamika perubhan ma'na dengan bertumbuhnya kebudayaan. Bahasa Al Quran adalah bahasa baku yang kata-kata di dalamnya tidak mengalami perubahan ma'na.
Jadi kalau mau mengerti betul makna Khaatamu, harus ditempuh dua macam pendekatan, yaitu pertama dalam hubungannya dengan Qur.a-nun 'Arabiyyun sebagai bahasa baku dan kedua dalam hubungannya dengan bahasa Arab Budaya yang mempunyai arti bermacam-macam.
1. Arti KHaatamu menurut Qur.aanun 'Arabiyyun.
Karena Qur.aanun 'Arabiyyun adalah bahasa baku, maka Al Quran dipergunakan sebagai "kamus", menurut prinsip ayat menjelaskan ayat. KHaatama dibentuk oleh akar kata yang terdiri dari 3 huruf KHa, Ta dan Mim diturunkan menjadi kata dasar dalam bentuk alFi'il alMaadhiy "KHatama". Marilah kita melakukan intizhar (observasi) kata dasar "KHatama" dalam Al Quran.
==>1. KHatama Llaahu 'alaa Quluwbihim wa 'alaa Sam'ihim ilaa Aakhir Aayah (s.Al Baqarah, 2:7), artinya: Allah MENUTUP qalbu dan pendengaran mereka hingga akhir ayat.
==>2. Qul Ara.aytum in Akhadza Llaahu Sam'akum wa Abshaarakum wa KHatama Quluwbikum ilaa Aakhir Aayah (s. Al An'aam, 6:46), artinya: Katakanlah (hai Muhammad) kabarkanlah kepadaku, jika Allah melenyapkan pendengaran dan penglihatanmu dan MENUTUP qalbumu, hingga akhir ayat.
==>3. Afara.ayta mani tTakhadza Ilaahahuu Hawaahu wa Adhallahu Llaahu 'alaa'Ilmin wwa KHatama 'alaa sam'ihii wa Qalbihii ilaa Aakhir Aayah (s. Al Jaatsiyah, 45:23), artinya: Adakah engkau lihat orang yang mengambil hawa-nafsunya menjadi tuhannya dan Allah menyesatkannya atas ilmu dan MENUTUP pendengaran dan qalbunya hingga akhir ayat.
==>4. Alyawma Nakhtimu 'alaa Afwaahihim ilaa Aakhir Aayah (s. Yaasin, 36:65), artinya: Pada hari (Pengadilan) Kami TUTUP mulut mereka hingga akhir ayat.
==>5. ---- Fain Yasyai Llaahu Yakhtimu 'alaa Qalbika ilaa Aakhir Aayah (s.AsySyuwraa, 42:24), artinya: ---- Jika Allah menghendaki diTUTUP-Nya qalbumu hingga akhir ayat.
==>6. Maa Kaana Muhammadun Abaa Ahadin mmin rRijaalikum wa Laakin rRasuwla Llaahi wa KHaatama nNabiyyiina ilaa Aakhir Aayah (s. Al Ahzab, 33:40), artinya: Muhammad itu bukanlah bapak salah seorang di antara laki-laki kamu, tetapi di Rasul Allah dan PENUTUP Nabi-Nabi hingga akhir ayat.
==>7. Yusqawna min rahiyqin Makhtuwm (s. Al Muthaffifin, 83:25), artinya: Mereka diberi minuman (dalam botol) yang DITUTUP.
==>8. KHitaamuhuu Miskun ilaa Aakhir Aayah (s. Al Muthaffifin, 83:26), artinya: PENUTUPNYA (BERBAU) kesturi.
Jadi arti bahasa Al Quran yang dibentuk oleh akar kata KHa, Ta, Mim, Khatama artinya TUTUP.
Seperti kita lihat di atas, ada 8 kata yang berakar dengan KHa, Ta, Mim
1. KHatama 2. KHatama 3. KHatama 4. Nakhtimu 5. Yakhtimu 6. KHaatama 7. Makhtuwm 8. Khitaamu
==>2. Qul Ara.aytum in Akhadza Llaahu Sam'akum wa Abshaarakum wa KHatama Quluwbikum ilaa Aakhir Aayah (s. Al An'aam, 6:46), artinya: Katakanlah (hai Muhammad) kabarkanlah kepadaku, jika Allah melenyapkan pendengaran dan penglihatanmu dan MENUTUP qalbumu, hingga akhir ayat.
==>3. Afara.ayta mani tTakhadza Ilaahahuu Hawaahu wa Adhallahu Llaahu 'alaa'Ilmin wwa KHatama 'alaa sam'ihii wa Qalbihii ilaa Aakhir Aayah (s. Al Jaatsiyah, 45:23), artinya: Adakah engkau lihat orang yang mengambil hawa-nafsunya menjadi tuhannya dan Allah menyesatkannya atas ilmu dan MENUTUP pendengaran dan qalbunya hingga akhir ayat.
==>4. Alyawma Nakhtimu 'alaa Afwaahihim ilaa Aakhir Aayah (s. Yaasin, 36:65), artinya: Pada hari (Pengadilan) Kami TUTUP mulut mereka hingga akhir ayat.
==>5. ---- Fain Yasyai Llaahu Yakhtimu 'alaa Qalbika ilaa Aakhir Aayah (s.AsySyuwraa, 42:24), artinya: ---- Jika Allah menghendaki diTUTUP-Nya qalbumu hingga akhir ayat.
==>6. Maa Kaana Muhammadun Abaa Ahadin mmin rRijaalikum wa Laakin rRasuwla Llaahi wa KHaatama nNabiyyiina ilaa Aakhir Aayah (s. Al Ahzab, 33:40), artinya: Muhammad itu bukanlah bapak salah seorang di antara laki-laki kamu, tetapi di Rasul Allah dan PENUTUP Nabi-Nabi hingga akhir ayat.
==>7. Yusqawna min rahiyqin Makhtuwm (s. Al Muthaffifin, 83:25), artinya: Mereka diberi minuman (dalam botol) yang DITUTUP.
==>8. KHitaamuhuu Miskun ilaa Aakhir Aayah (s. Al Muthaffifin, 83:26), artinya: PENUTUPNYA (BERBAU) kesturi.
Jadi arti bahasa Al Quran yang dibentuk oleh akar kata KHa, Ta, Mim, Khatama artinya TUTUP.
Seperti kita lihat di atas, ada 8 kata yang berakar dengan KHa, Ta, Mim
1. KHatama 2. KHatama 3. KHatama 4. Nakhtimu 5. Yakhtimu 6. KHaatama 7. Makhtuwm 8. Khitaamu
Para pembaca, ikutilah tenang-tenang uraian tentang Khaatama.
Khaatama adalah fi'il (kata kerja, verb) dan Khaatamun adalah isim (kata benda, noun ) dengan penyisipan Alif di antara Kha dengan Ta dalam akar kata Kha-Ta-Mim, sehingga menjadi Kha-Alif-Ta-Mim. Ini mengikuti wazan (pola) Fa-Alif-'Ain-Lam.
Khaatama adalah fi'il (kata kerja, verb) dan Khaatamun adalah isim (kata benda, noun ) dengan penyisipan Alif di antara Kha dengan Ta dalam akar kata Kha-Ta-Mim, sehingga menjadi Kha-Alif-Ta-Mim. Ini mengikuti wazan (pola) Fa-Alif-'Ain-Lam.
Ada dua qiraah pola: Faa'ilun dan Faa'alun, yaitu:
1. Khaatimun dan
2. Khaatamun
Maka qiraah untuk ayat dalam Surah al ahzab 33:40 itu.
1.Khaatimun nabiyyiin, artinya "penutup para nabi". Qiraah Khaatimun ini tidak mengandung makna kontinuitas, sehingga bisa menjadi celah bagi Ahmadiyah Qadiyan, yaitu penutup yang tidak kontinu, yakni setelah datangnya Ghulam Ahmad penutup itu tidak berfungsi lagi.
2.1 Khaatamun nabiyyiin, artinya "cincin stempel para nabi". Maka inilah celah yang dimasuki Ahmadiyah Qadiyan. Rangkaian nabi dianggap seolah-olah jari-jari tangan. Nabi Muhammad SAW adalah "jari istimewa", yaitu mulia, karena memakai cincin stempel, sementara yang lain tidak. Jadi Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang termulia, bukanlah Nabi terakhir. Inilah pembenaran Ahmadiyah Qadiyan ada nabi sesudah Nabi Muhammad SAW, yaitu Ghulam Ahmad.
Padahal cincin stempel itu fungsi utamanya sebagai zegel (seal). Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai zegel nabi-nabi, ibarat pintu yang disegel tidak boleh dibuka, berarti kembali kepada makna akar kata Kha-Ta-Ma, yaitu tutup. Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para Nabi sekaligus adalah Nabi yang termulia.
2.2 Faa'âlun yaitu pelaku yang mengandung arti kontiunitas, maka khaatamun nabiyyin mengandung arti penutup nabi yang mengandung makna kontinuitas. Dengan qiraah ini Ahmadiyah Qadiyan tidak mendapatkan celah lagi.
Jadi sekali lagi ditekankan pembubuhan alif pada huruf pertama SAMA SEKALI TIDAK MENGUBAH ARTI.
2. Arti Khaatamu ditinjau dari bahasa Arab-budaya.
Jadi sekali lagi ditekankan pembubuhan alif pada huruf pertama SAMA SEKALI TIDAK MENGUBAH ARTI.
2. Arti Khaatamu ditinjau dari bahasa Arab-budaya.
Seperti telah disampaikan di atas, bahasa Arab-budaya mengalami dinamika perubahan ma'na. Contoh ma'na kata yang berubah dalam perjalanan waktu. Dalam contoh ini motif perubahan ma'na itu ialah adanya keinginan untuk mencocokkan pengertian kata itu sesuai dengan aliran pemikiran yang ingin dipertahankannya. Dalam Kamus Munjid kata "kahlan" diartikan dengan "usia tigapuluhan", ini dilatarbelakangi oleh keyakinan Munjid yang orang Kristen. Seperti diketahui menurut keyakinan Kristen Jesus Kristus mati disalib pada waktu berumur tigapuluhan. Padahal arti kahlan adalah LANSIA. Demikian pula orang-orang Ahmadiyah Qadiyan karena dilatarbelakangi kepercayaan mereka Ghulam Ahmad adalah nabi dan al masih yang dijanjikan, maka mereka mencarilah ke dalam bahasa Arab-budaya dengan memungut arti menurut bahasa Arab-budaya, yaitu "mulia". Maka dengan demikian terdapat "celah" untuk menyusupkan melalui celah itu kenabian Ghulam Ahmad. Maka kaum Ahmadiyah Qadiyan menafsirkan Khaatamun Nabiyyi-n dengan Nabi yang mulia. Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang termulia, memang itu benar, tetapi itu BUKAN dalam konteks Khatamun Nabiyyin, melainkan dalam hubngannya dengan peristiwa Isra-Mi'raj, yaitu Nabi Muhammad SAW satu-satunya Nabi di Isra-Mi'rajkan.
Dapatkah dengan seenaknya menafsirkan Khaatamu itu dengan ma'na bahasa Arab-budaya? Siapa yang paling tinggi otoritasnya dalam menafsirkan Al Quran? Itu tidak lain dari Nabi Muhammad SAW sendiri, karena beliaulah yang paling mengerti Al Quran. Marilah kita lihat Sabda Nabi Muhammad SAW dalam Hadits Shahih. (Para missionaris Ahmadiyah juga mengutip Hadits, namun tanpa menyebutkan perawinya, seperti yang dikutip a.l seperti: ==> "Nabi Muhammad SAW berkata kepada Sayidina Ali r.a. tentang ayat khatamun nabiyyi-n sbb: Aku ini khatmul ambiya dan engkau Ali khatamul Aulia).
==>1. Rasulullah SAW bersabda: "Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan datang sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku." (Rawahu Bukhari)
==>2. Rasulullah SAW bersabda: "Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar." (Rawahu Bukhari)
==>3. Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi". (Rawahu Bukhari)
==>3. Rasulullah SAW bersabda: "Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi". (Rawahu Bukhari)
==>4. Rasulullah SAW bersabda: "Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku; dan saya adalah yang terakhir dalam arti tidak ada nabi yang datang sesudahku". (Rawahuma Bukhari wa Muslim)
==>5. Rasulullah SAW bersabda: "Aku Muhammad, Nabi Allah yang umi", dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: "Tidak ada lagi Nabi sesudahku". (Rawahu Ahmad)
==>6. Rasulullah SAW bersabda: "Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi Rasul dan Nabi sesudahku". (Rawahu Ahmad)
==>7. Rasulullah SAW bersabda `Ali RA: "Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku". (Rawahuma Bukhari wa Muslim).
Khatimah:
Menurut pendekatan pertama, semua kata dasar Kkatama dalam Al Quran berarti tutup, sehingga Khaatamun Nabiyyiin berma'na Nabi Penutup.
Menurut pendekatan kedua, secara substantif Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa Khaatamun Nabiyyiin berarti Nabi terakhir, artinya Khaatamun Nabiyyiin berma'na Penutup Nabi-Nabi.
Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang termulia, memang itu benar, tetapi itu BUKAN dalam konteks Khaatamun Nabiyyiin, melainkan dalam hubngannya dengan peristiwa Isra-Mi'raj, yaitu Nabi Muhammad SAW satu-satunya Nabi di Isra-Mi'rajkan.
Menurut pendekatan pertama, semua kata dasar Kkatama dalam Al Quran berarti tutup, sehingga Khaatamun Nabiyyiin berma'na Nabi Penutup.
Menurut pendekatan kedua, secara substantif Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa Khaatamun Nabiyyiin berarti Nabi terakhir, artinya Khaatamun Nabiyyiin berma'na Penutup Nabi-Nabi.
Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang termulia, memang itu benar, tetapi itu BUKAN dalam konteks Khaatamun Nabiyyiin, melainkan dalam hubngannya dengan peristiwa Isra-Mi'raj, yaitu Nabi Muhammad SAW satu-satunya Nabi di Isra-Mi'rajkan.
Tambahan:
Ahmadiyah Qadiyan yang (dahulu) berpusat di Rabwah, Pakistan,(#) di mana-mana sangat "agresif" mempublikasikan materi yang diambil dari tafsir Quran dari (under the auspices of) Bashi-ud-Din Mahmud Ahmad (BMA), tidak terkecuali materi tentang Khatamun Nabiyyiin. Saya memiliki Kitab Tafsir BMA tersebut. . Namun saya juga punya Kitab Tafsir dari Ahmadiyah Lahore (Anjuman),(#) yaitu tafsir Mawlana Muhammad Ali (MMA), di Indonesia . Adalah SANGAT berbeda dengan penafsiran BMA. Saya kutip tafsir MMA mengenai ayat (33:40):: Moehammad is de vader van niemand uwer menschen, maar hij is de Apostel God en de laatste der profeten en God is met elk ding bekend. Para netters dapat membaca dalam tafsir MMA kata-kata "de laatste der profeten" yang dalam bahasa Indonesianya berarti: "Nabi yang paling akhir".
Ahmadiyah Qadiyan yang (dahulu) berpusat di Rabwah, Pakistan,(#) di mana-mana sangat "agresif" mempublikasikan materi yang diambil dari tafsir Quran dari (under the auspices of) Bashi-ud-Din Mahmud Ahmad (BMA), tidak terkecuali materi tentang Khatamun Nabiyyiin. Saya memiliki Kitab Tafsir BMA tersebut. . Namun saya juga punya Kitab Tafsir dari Ahmadiyah Lahore (Anjuman),(#) yaitu tafsir Mawlana Muhammad Ali (MMA), di Indonesia . Adalah SANGAT berbeda dengan penafsiran BMA. Saya kutip tafsir MMA mengenai ayat (33:40):: Moehammad is de vader van niemand uwer menschen, maar hij is de Apostel God en de laatste der profeten en God is met elk ding bekend. Para netters dapat membaca dalam tafsir MMA kata-kata "de laatste der profeten" yang dalam bahasa Indonesianya berarti: "Nabi yang paling akhir".
Sedangkan di antara kedua perkumpulan Ahmadiyah itu terdapat perbedaan yang mendasar yang sampai sekarang tidak dapat bertemu, maka betapa pula di luar lingkungan Ahmadiyah, akan membawa percakapan bahkan dapat meningkat pada ekskalasai perdebatan seru yang tidak habis-habisnya dalam milis ini. Untuk itu saya tidak akan melayani tanggapan yang sporadis, ataupun parsial. Insya-Allah, saya hanya akan menanggapi tanggapan yang berbentuk artikel yang utuh, itupun kalau saya anggap perlu benar, baru saya menjawab. Kalau ada materi baru, jika saya anggap perlu, insya-Allah akan saya jawab dalam bentuk artikel yang utuh.
---------------------------------
(#)
Ahmadiyah Qadiyan, di Indonesia disebut JAI singkatan dari Jema'ah Ahmadiyah Indonesia pusatnya di Parung, Bogor, dan Ahmadiyah Lahore, di indonesia disebut GAI singkatan dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia pusatnya di Yogyakarta. Jemaat Ahmadiyah Indonesia tidak berani menghadiri acara dialog dan dengar pendapat yang diadakan oleh pihak Kementerian Agama (Kemenag), terkait status Ahmadiyah pada, Selasa, 22 Maret 2011. Sedangkan Gerakan Ahmadiyah Indonesia hadir dalam dialog tersebut.
Jadi semua yang diujarkan oleh para pembela qadiyanisme untuk berdialog, ya dari pihak qadiyanisme sendiri yang nyatanya tidak bersedia berdialog. Seperti diketahui, para pembela sengit qadiyanisme selalu berteriak supaya Qadiyadisme dihadapi dengan dialog. Pembela sengit Qadiyanisme dipelopori oleh komunitas Utan Kayu yang terkenal dengan liberalisme aliran keras "Islam Liberal" yang (mantan) dipimpin oleh Ulil Absar Abdalla yang juga menjadi petinggi Partai Demkorat.
Wassalam,
HMNA
HMNA
----- Original Message -----
From: "wirosableng201" <wirosableng201@yahoo.com>
Sent: Friday, October 29, 2010 2:03 PM
Subject: Re: Bls: [wanita-muslimah] Mahendradatta Mendebat Pengemban Sekularisme Pembela Ahmadiyah
--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, aldiy@... wrote:
>
> Content diskusi muiz dan mas cocok, sampe "klaim nabi".
> Sosok nabi atau yang berkualitas nabi ada terus sepanjang jaman, kurasa kita semua setuju.
> Yang mesti didiskusikan adalah bahwa "konsep kenabian jaman dulu dan sekarang udah berubah, karena kita dan jaman berubah"
> Contoh, jaman dulu seorang yang berkualitas nabi,seperti muhammad, mengumumkan dirinya mendapat wahyu (padahal muhammad pribadi sebetulnya ndak suka metode yg seperti gini,dia benci cenayang, muhammad was beyond his time) - diterima oleh ummat, sekalipun yg diharapkan mestinya jangan dari arab jazirah, kelas baduy itu, makanya resistensi tinggi. Wacana/ konsep kenabian yg diumumkan mendapat wahyu itu, masih bisa diterima pada waktu itu.
> Sekarang,model kayak gitu bukan jamannya lagi. Makanya nabi muhammad "nabi penutup". Tapi bukan berarti nggak ada lagi nabi,orang soleh,wali,dsb. Yang bukan jamannya itu model pengumuman "aku nabi mendapat wahyu dari allah dst, karena itu dengar ikuti aku". Lha ini kan yg coba dijelaskan pak Chodjim dan Ki Sabri, tapi kalian nggak dengerin, pada bandel sih...
> Tentu saja yang namanya manusia kan macem2, dan sebagian kita berwacana masa lalu atau malah jauh ke depan. Ya ndak apa-apa. Sebagian Ahmadiyyah menganut konsep kenabian masa lalu, itu mungkin bisa menolong mereka beribadah dunia dengan lebih baik, dengan model syariat jaman dulu, ya ndak apa-apa, selama mereka beretika sosial yang tinggi terhadap muslim lain.
> Muslim lain yang berkonsep "kenabian jaman sekarang,nabi muhammad nabi penutup" jangan galak atau merasa lebih benar thd minoritas yang menganut "konsep kenabian jaman dulu". Mesti mengayomi, termasuk misalnya yang dilakukan pak muiz menanyakan apa bener orang ahmadiyyah menganggap yang lain anjing dan keluar jalur muslim? Dijawab pak Mas, nggak dong. Mba Mei tanya, apa bener nggak mau jamaah bareng, dijawab mas, mau dong. Ini namanya tabayyun. Nah, kalo mas nggak konsisten, mba lina siap keprak Mas pake sapu lidi, seperti saya juga ngusir FPI pake gagang sapu...:-)
> Salam
> Mia
__._,_.___
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
.
__,_._,___






0 comments:
Post a Comment