Muslimuun artinya orang-orang dalam keladaan selamat. Muntaqimuun artinya orang-orang dalam keadaan mendapat siksaan. Muqtaqdiruun artinya orang-orang yang dalam kekuasaan azab Allah. Lalu apanya yang kurang pas jika membandingkan muntaqimuun dengan muslimuun dan muqtaqdiruun. Ketiga-tiganya menyatakan banyak orang-orang, Banyak orang-orang yang dalam keadaan selamat. Banyak orang-orang yang dalam keadaan mendapat siksaan. Banyak orang-orang yang dalam kekuasaan azab Allah.
Masalahnya, karena ayat (32:22). diterjemahkan:
Dan tidaklah ada yang lebih zalim daripada orang yang diberi ingat dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya (dan tetap mengingkarinya); Sesungguhnya Kami tetap membalas.
Muntaqimuun itu isim (kata benda), orang-orang yang dalam keadaan mendapat siksaan. Jadi yang banyak itu orang-orang. Kok diterjemahkan menjadi fi'il (kata kerja) Kami membalas, sehingga terkesan yang membalas dengan siksaan itu banyak.
Jadi Pak Abd. Muiz masalahnya terletak dalam terjemahan, yaitu kata benda diterjemahkan menjadi kata kerja. Sehingga banyak orang-orang yang disiksa berubah menjadi yang menyiksa itu banyak.
Wassalam
HMNA
----- Original Message -----From: Mu'iz, AbdulSent: Wednesday, January 25, 2012 4:02 PMSubject: Bls: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's Atheists
Sebenarnya kurang pas membandingkan muntaqimuun dengan : muslimuun dan muqtadirun. Karena dalam menampilkan al salam (source of peace), Allah bisa tampil dalam bentuk mufrad, untuk memberikan kesalamatan dan kedamaian, Allah bisa tanpil sendiri tanpa melibatkan pihak lain, begitu pula dalam menampilkan al muqtadir (powerfull), Allah bisa tampil dalam bentuk mufrad, untuk menetapkan segala sesuatu bisa tampil sendiri tanpa melibatkan pihak lain. Kenyataannya dalam qur'an, Allah tidak pernah menyebut intiqam dalam bentuk mufrad (al muntaqim), melainkan muntaqimuun artinya selalu melibatkan pihak lain.Padahal Allah itu Maha Kuasa dan qiyamuhu bi nafsihi (mandiri tidak tergantung pada pihak lain), tetapi dengan tiadanya penyebutan al muntaqim, menurut Quraisy Syihab, Allah ingin menyembunyikan kebengisan-Nya. Bandingkan misalnya dengan Maha Memberi Rezeki (al Razzaq) Allah masih menampilkan redaksi mufrad. Artinya ada suatu pesan moral bahwa dalam membalas (avenger) Allah selalu melibatkan banyak pihak.Sebenarnya asmaa ulhusna tidak hanya terbatas pada 99 nama, tergantung rujukan yang dipakai :1) Bukhari muslim meriwayatkan ada 992) At Thabathabai berpendapat ada 127
3) Ibnu Barjam Al-andalusi berpendapat ada 132
4) Al Qurthubi berpendapat ada 200
5) Abubakar ibnul Araby berpendapat ada 1000(lihat karya pak Quraisy Syihab : menyimak tabir asmaa ulhusna).Bahkan menurut rujukan atau referensi nasrani dan yahudi nama-nama allah yang baik tsb lebih banyak lagi.WassalamAbdul Mu'iz
Dari: H. M. Nur Abdurrahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Dikirim: Rabu, 25 Januari 2012 14:03
Judul: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's Atheists
Kata-kata dalam Al-Quran yang berasal dari akar-kata, di mana diturunkan kata-kata asmaa al-husnaaWa antum muslimuun (S.Al-Baqarah, 2:132), artinya: Dan kamu dalam keadaan selamat". Muslimuun = orang-orang dalam keladaan selamat. Muslimuun asalnya dari akar-kata Sin-Lam-Mim, dimana diturunkan asmaa al- husnaa As-Salam.Tsumma a'radha 'anhaa innaa mina l-mujrimiina muntaqimuun (As-Sajdah, 32:22), atinya: Sesungguhnya kepada orang-orang berdosa dalam keadaan mendapat siksaan. Muntaqimuun artinya orang-orang dalam keadaan mendapat siksaan. Muntaqimuun, asalnya dari akar kata (Nun-Qaf-Mim) , dimana diturunkan asmaa al-husnaa al-muntaqimFainnamaa nadzhabanna bika fainnaa minhum muntaqimuun (S.Al-Zukhruf, 43:41), artinya: sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan), maka sesungguhnya kepada mereka dalam keadaan mendapat siksaan (di akhirat).Aw nuriyannaka lladzii wa adnaahum fainaa 'alaihim muqtadiruun (S.Az Zukhruf, 43:42), artinya: Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka, maka sesungguhnya kepada mereka dalam kekuasaan (azab Allah). Muqtaqdiruun artinya orang-orang yang dalam kekuasaan azab Allah. Muqtaqdiruun, asalnya dari akar kata (Qaf-Dal-Ra), dimana diturunkan asmaa al-husnaa Al-Qaadir dan Al-Muqtadir.Alhasil, Muslimuun, Muntaqimuun dan Muqtaqdiruun bukanlah asmaa al-husnaa, melainkan kata-kata yang akar-katanya dari masing2 Sin-Lam-Mim, Nun-Qaf-Mim Qaf-Dal-Ra, di mana diturunkan asmaa al-husnaa As-Salam, Al-Muntaqim, Al-Qaadir dan Al-Muqtadir.Wassalam
HMNA
----- Original Message -----
From: Mu'iz, Abdul
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, January 24, 2012 1:08 PM
Subject: Bls: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's Atheists
Abah HMNA,
(1) terkait asmaa ulhusna "al muntaqim" saya sebenarnya fokus ke mufrad (singular) dan jama' (plural) mengapa abah menjadi fokus ke penggunaan "al" mempersoalkan ism nakirah dan ma'rifah ?
(2) al muntaqim jelas merupakan bentuk mufrad jamaknya adalah al muntaqimuun. Di al qur'an tidak pernah menyebut al muntaqim (dalam bentuk mufrad) yang sering disebutkan adalah al muntaqimun, lalu abah merespons di al qur'an tidak ada al muntaqimuun tetapi muntaqimuun tanpa al. Mengapa mempersoalkan muntaqimuun tanpa al ? memangnya kalau tanpa al apakah menurut abah HMNA muntaqimuun bukan asmaa ulhusna ? bukankah muntaqimuun tanpa al itu lebih merupakan faktor gramatikal alias nahwu ?(3) Memang di hadits Bukhari Muslim menyebutkan ada 99 asmaa ulhusna, no urut 81 dalahdaftar no urut 81 adalah al "muntaqim" dalam bentuk mufrad, tidak tergelitikkah kita untuk mempertanyakan mengapa di al Qur'an disebut jama' (al muntaqimuun), menurut saya merujuk pendapat Qur'aisy Syihab bahwa Allah ingin menunjukkan kepada para hamba-Nya bahwa dalam menimpakan hukuman Allah tidak bekerja sendiri melainkan melibatkan banyak pihak. Berbeda dalam hal memberikan rizqi, Allah tidak selalu menggunakan bentuk jama' pernah menggunakan bentuk mufrad.
Wassalam
Abdul Mu'iz--------------------------------------------------------------------------------
Dari: H. M. Nur Abdurrahman <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Dikirim: Senin, 23 Januari 2012 23:40
Judul: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's Atheists
Mu'iz, Abdul wrote:
saya menginformasikan bahwa dalam pemakain redaksi di Qur-an tidak ada dalam bentuk mufrad (singular), semuanya disajikan dalam buntuk jama' (plural). Namun saya tidak tahu apanya yang dibantah abah HMNA ?, muntaqimuun (QS 32:22, QS 43:41, QS 44:16) jelas-jelas dalam bentuk jama'
(((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((
HMNA:
Apanya yang saya bantah? Baiklah saya copy paste:
----- Original Message -----
From: H. M. Nur Abdurrahman
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Sent: Monday, January 23, 2012 12:36 AM
Subject: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's AtheistsMu'iz, Abdul wrote:
al muntaqimuun di al Qur-an dapat dibaca di QS al Zukhruf 43:41 dan QS as Sajdah 32:22.
((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((((HMNA:
Tidak ada al-muntaqimuun (bentuk ma'rifah/definite)) dalam Al-Quran, melainkan muntaqimuun (bentuk nakirah/indefinite)
Fainnamaa nadzhabanna bika fainnaa minhum muntaqimuun (S.Al-Zukhruf, 43:41)
Tsumma a'radha 'anhaa innaa mina l-mujrimiina muntaqimuun (As-Sajdah, 32:22)***********************************
Pak ANB, dan Pak Abd. Muiz, jadi yang saya bantah yaitu tulisan Pak Abd.Muiz: "al muntaqimuun di al Qur-an dapat dibaca di QS al Zukhruf 43:41 dan QS as Sajdah 32:22." Tulisan tsb-lah yang saya bantah, bahwa: "Dalam Al-Quran tidak ada al muntaqimuun, melainkan muntaqimuun, tanpa al."Wassalam----- Original Message -----
From: "Mu'iz, Abdul" <quality@posindonesia.co.id>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Monday, January 23, 2012 11:12 AM
Subject: Re: Bls: Re: Re: [wanita-muslimah] Re: No Need to Believe: Indonesia's AtheistsPak ANB,(1) Sebenarnya kami (saya dan abah HMNA) sama-sama menyepakait bahwa al muntaqim adalah asmaa ulhusna, hanya saya menginformasikan bahwa dalam pemakain redaksi di Qur-an tidak ada dalam bentuk mufrad (singular), semuanya disajikan dalam buntuk jama' (plural). Namun saya tidak tahu apanya yang dibantah abah HMNA ?, muntaqimuun (QS 32:22, QS 43:41, QS 44:16) jelas-jelas dalam bentuk jama' tetapi yang dipermasalahkan abah HMNA adalah ketiadaan "al", mungkin karena asmaa ulhusna dalam bentuk definite article maka muntaqimuun (bentuk jama') di qur'an karena tanpa "al" maka di benak abah muntaqimuun tsb bukan termasuk asmaa ulhusna. Kalau benar pemikiran abah HMNA demikian maka tentu keliru. Karena ada juga asmaa ulhusna yang bentuk mufrad (singular) juga tanpa "al" contohnya sudah saya sebutkan yaitu al alim" di QS 2:263.(2) Adapun makna al muntaqim ya dekat dengan hal-hal pembalasan, siksaan atau hal-hal yang menyakitkan. Dalam hal apa Allah tampil sebagai al muntaqim ?a) Allah menghancurkan mereka yang suka menantang, menghukum penjahat, dan memperkeras hukuman atas penindas.Contohnya Kaum Ad yang menentang Nabi Hud dan mereka manantang ditimpakan azab, Kaum Tsamud yang menentang Nabi Syuaib, mereka juga menantang diberi azab, Kaum Sodom dan Gomorah yang menentang Nabi Luth, juga meremehkan azab juga meminta didatangkan azab. Ini contoh masa dahulu.Bagaimana dengan contoh masa sekarang ?, intiqam juga berlaku misalnya kalau pendduduk jorok hidup tidak tertib, buang sampah sembarangan sehingga menyumbat air selokan, kawasan resapan air dan hutan lindung dijadikan villa atau pabrik maupun plaza maka akan terjadi banjir, yang bakal menderita tidak hanya kaum yang bersalah tetapi semua wilayah akan mendapat penderitaan yang sama tanpa pandang bulu meskipun hidup tertib (misalnya buang sampah pada tempanya), contoh lain penduduk yang gemar mencuri listrik, main batol arus listrik seenaknya sendiri sehingga berpotensi korsluit maka tertimpa musibah kebakaran. Negeri yang gak kunjung tuntas mengatasi korupsi, maka akan dirundung malapetaka silih berganti bak benang kusut.Nah, kalau contoh di akhirat ya neraka merupakan balasan (intiqam) bagi hamba-hamba Allah yang kafir. Adapun balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh dapat balasan juga berupa syurga, biasanya balasan syurga bukan menggunakan istilah intiqam melainkan pahala atau ajrun ghairu mamnuun alias pahala yang tiada putus2nya.Wassalam
Abdul Mu'iz
__._,_.___
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.
.
__,_._,___






0 comments:
Post a Comment