Depok akan menerapkan jam malam untuk anak jalanan.
Malam turun di Kota Depok, Rabu lalu. Gelap mulai me nyelimuti. Buat anak-anak kebanyakan, ini jelas waktunya masuk kamar dan beristirahat kalau tidak bergelut dengan buku-buku pelajaran.Tapi tidak bagi Asmawati Efendi, 13 tahun. Bocah perempuan itu malah semakin asyik dengan ukulele lusuhnya tepat di bawah lampu pengatur lalu lintas yang menyala hijau di satu persimpangan di Jalan Margonda. Setiap kali lampu berganti menyala merah, dia melangkah maju dan menghampiri setiap pengendara.
Asmawati tidak sendiri. Banyak teman sebayanya yang lebih memilih menghabiskan malam justru di jalanan dan mengamen seperti itu.
"Kalau pagi tetap sekolah, Bang," katanya.
Kota Depok memang mendelegasikan diri sebagai kota layak anak.
Tapi yang terjadi belakangan ini pasti bukan seperti yang diharapkan. Kota penyangga Ibu Kota di sebelah selatan ini kini justru diramaikan oleh anak-anak di jalanan.
Mereka seperti Asmawati dan teman-temannya itu, yang "tiba-tiba" saja bermunculan di sepanjang ruas Jalan Margonda.
Mereka tak hanya mengamen, tapi bahkan meminta-minta. Ini seperti yang dilakukan Abim, 13 tahun."Daripada mencuri, Bang,"katanya.
Pohan, 13 tahun, yang ditemui di sudut lain dari Jalan Margonda, menyatakan tidak ada yang menyuruhnya untuk berada di sana mencari uang. Pohan tinggal bersama kakeknya dan tidak tahu di mana orang tuanya. "Enggak ada yang suruh.
Uangnya untuk beli nasi,"katanya.
Kepala Seksi Pengendalian Operasional di Satuan Polisi Pamong Praja Kota Depok, Diki Erwin, mengaku tahu kemunculan anakanak jalanan yang bak jamur di musim hujan itu. Diki, yang ditemui di kantornya Kamis lalu, menyatakan mengawasi keberadaan anakanak jalanan itu sepanjang hari, setiap pagi sampai sore.
"Tapi mereka munculnya mulai malam," katanya sambil menambahkan, "kami akan membuat jam malam."
Namun Diki memastikan anakanak jalanan di wilayahnya tidak terorganisasi. "Mereka sendiri-sendiri. Jika ada kelompok, itu hanya karena pertemanan,"kata Diki.Terhadap anak-anak berusia belasan tahun itu, Diki mengatakan, ia menjalankan pendekatan secara khusus. Dia menolak cara-cara razia dan pengusiran. Dia menyebut teknik menjangkau atau menjaring tanpa menggunakan paksaan. "Kalau mereka tidak mau ikut, saat terjaring, kami minta identitasnya saja,"kata Diki.
Setelah mendapatkan alamat tempat tinggalnya, petugas Satpol PP langsung bergerak mendatangi rumah dan keluarga atau orang tua si anak. Disekolahkan atau tidak, Diki menegaskan, si anak tidak diperbolehkan mencari uang di jalan.
Diki mengatakan Satpol PP Kota Depok juga menjalin kerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan dan Sosial Kota Depok. Lewat kerja sama itu, beberapa anak jalanan yang dijaring ada yang dikirim untuk sekolah di Yayasan Bina Insan Mandiri Depok. "Tiga hari yang lalu, dua orang kami kirim ke sana,"katanya.
Diki menunjukkan data kedua anak yang terjaring dari Terminal Depok itu, masing-masing Fahmi Fahrozi, 15 tahun, dan Fais, 13 tahun.Yang pertama berasal dari Kelurahan Cipayung, Jakarta Timur, bapaknya buta dan ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Banyuwangi, Jawa Timur.
Adapun Fais mengaku tak lagi punya orang tua. "Mereka kami jaring di Terminal Depok,"kata Diki.
Tidak hanya disekolahkan, ada pula anak jalanan yang telah berusia lebih dari 16 tahun dikirim sebagai tenaga kerja. Satu orang disebutkan Diki sudah ada yang dikirim bekerja di Hong Kong.
ILHAM
| |
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.







0 comments:
Post a Comment