922 SM Sepeninggal Sulaiman AS, Israel terpecah dua:
= Israel (Utara) diperintah Jerobeam [922-901] hingga Hoshea [732-724] dan
= Jehuda (Selatan) diperintah Rehobeam [922-915] hingga Zedekia [597-587].
721 SM Samaria, Ibukota Kerajaan Israel (Israel Utara) jatuh ke tangan Assyria (Asyur). Hilangnya 10 suku Israel berawal di Assyria. 630 SM - Assyria jatuh ke tangan Babylonia, Raja Nabopolassas [630-605 SM]
587 SM Jerusalem, Ibukota Judea jatuh dan Bait Allah Pertama hancur karena serbuan Nebuchadnezar II [605-561], Babylonia. Diaspora 2 suku Israel (Jehuda dan Benyamin) ke Babylonia dan kawasan sekitar Judea. 539SM Babylonia jatuh ke tangan Persia, Cyrus [559-530 SM], disusul kembalinya sebagian bangsa Israel ke Judea.
Jejak 10 suku Israel yang hilang:
Khazar, Chazar (Rusia)
Kawasan yang dihuni orang-orang Khazar terletak di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, diapit Ukraina dan Kazakhstan. Bangsa Khazar berasal dari suku kuno Turki (Hun, atau Hsiung-nu) yang beralih memeluk Judaisme dan berhasil membentuk Khazaria, kerajaan kuat di masa Abad-7M hingga Abad-10M. Orang-orang Jahudi Eropa Timur (Ashkenazi) adalah keturunan orang Khazar. [Arthur Koestler, "The Thirteenth Tribe", London, 1976]. Keberadaan dan kemajuan orang-orang Khazar mengindikasikan akulturasi suku Israel yang hilang (yang melek huruf dan berteknologi) dengan suku Turk yang buta huruf dan bergaya-
hidup nomad.
Pathan (Afghanistan)
Di sekitar perbatasan Afghanistan, Pakistan dan India, bermukim sekitar 15 juta kelompok suku Pathans (atau Pashtuns, Paktuns, Pushtuns, yang berbahasa Pashtu), beragama Islam. Namun menganggap diri sebagai anak-cucu Kish, keturunan Raja Saul. Orang Pathan bertradisi menyunat anak di usia delapan hari (Muslim biasanya menyunat anak di usia 12 tahun), berpakaian model tzizit orang Israel, menyalakan lilin pada Jumat malam dan berpantang makan
seperti ketentuan Kashrut. Nama-nama 60an kelompok Pathan banyak mengandung kata Yusuf (=Joseph=Yosef), seperti Yusufzai, Yusufuzi, Yusufzad. Yusufzai berarti anak Yosef. Mereka menamakan diri suku bene Israel, atau anak Israel, dan bertradisi memiliki leluhur yang datang dari barat. Pathans bertradisi pernikahan ipar, yang mengharuskan saudara laki-laki menikahi janda saudaranya yang meninggal tanpa keturunan, sama seperti Israel kuno (Ul 25:5-6). Pathans juga bertradisi mengorbankan kambing penebusan, sama seperti masa Israel kuno yang membebankan dosa seluruh bangsa pada domba
yang diusir ke gurun dan disembelih (Im16).
Kashmir (India)
Di Negara Bagian Kashmir (India bagian utara, sebelah barat Nepal), yang terletak di lembah yang luas indah dan dikelilingi pegunungan tinggi, bermukim sekitar 5-7 juta orang Kashmir. Penampilan fisik mereka berbeda dengan umumnya orang India. Tradisi mereka memang mengindikasikan perbedaan asal-usul. Nama-nama puak orang Kashmir dan beberapa nama tempat sangat berbau Israel, misalnya Asheriya=Asher, Dand=Dan, Gadha=Gad, Lavi=Levi, Shaul=Saul, Musa=Moses, Suliamanish=Solomon, Israel=Israel, Abri=Hebrew, Kahana = mirip kata Ibrani yang berarti pendeta (seperti cohanim di Afrika). Orang Kashmir memiliki hari raya Pasca pada musim semi, saat dilakukan penyesuaian perbedaan penanggalan candra dan surya, dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang Israeli. Mereka memang menyebut diri sebagai Bene Israel, Anak-anak Israel. Orang Kashmiri menghormati Sabbath (beristirahat dari semua jenis kerja); menyunat bayi pada usia delapan bulan; tidak makan ikan yang tak bersisik dan bersirip, dan merayakan beberapa hari raya Israel lainnya, tetapi tidak yang berasal dari setelah kehancuran bait Allah pertama (seperti Hannukah).
Shin-lung atau Bene Menashe (di sekitar perbatasan India-Myanmar)
Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shinlung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri anak Menashe atau Bene Menashe. Kata Menashe banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru "Oh God of Menashe"). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala. Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Cina, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Cina Tengah sekitar tahun 230SM. Orang Cina menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa diantara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shinlung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka. Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Cina dan terpengaruh
budaya Cina, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timurlaut.
Mereka sadar bahwa mereka bukan orang Cina meskipun menggunakan bahasa Cina dialek lokal, dan menyebut diri Lusi yang berarti Sepuluh Suku ("Lu" berarti suku, dan "si" berarti sepuluh). Tradisi Menashe antara lain adalah sunat (kini sudah ditinggalkan), upacara pemberkatan anak pada usia 8 hari, hari raya keagamaan yang mirip dengan hari raya keagamaan Israel, praktek pernikahan ipar demi kelangsungan nama marga, menyebut nama Tuhan sebagai "Y'wa", dan memelihara puisi yang mirip dengan kisah penyeberangan Kitab Keluaran ketika bangsa Israel menyeberang Laut Merah. Di setiap kampung ada pendeta atau imam yang selalu bernama Harun (Aaron, saudara Musa dan Imam Pertama Jahudi) dengan pewarisan turun-temurun. Salah satu tugas mereka adalah mengawasi kampung, berdoa dan mempersembahkan korban, dengan jubah ber-`breastplate', ikatpinggang dan mahkota, dan selalu membuka doa dengan menyebut nama Menashe.
Dalam kasus terdapat orang jatuh sakit, para imam dipanggil untuk memberkati pesakit dan mempersembahkan korban. Imam akan menyembelih domba atau kambing dan mengoleskan darahnya di telinga, punggung dan kaki pesakit sambil mengucapkan mantra yang mirip dengan Im14:14. Pada kasus penyakit khusus, diselenggarakan upacara khusus. Semacam upacara penebusan yang dilakukan dengan memotong sayap burung dan menebar bulunya ke udara. Pada kasus penyakit lepra, para imam menyembelih burung di lapangan terbuka. Untuk penebusan dosa, dilakukan pengorbanan domba di altar seperti dilakukan di Bait Allah (seperti disaksikan seorang penulis di hutan Myanmar sekitar tahun 1963-1964). Darah sembelihan ditorehkan di ujung altar, dagingnya
dimakan. Yom Kippur dirayakan sebagai hari penebusan, sekali setahun seperti tradisi Bani Israili. Kendaraan imam tidak boleh dibuat dari logam, namun dari tanah liat, kain, atau kayu. Ch'iang-min (Cina)
Orang-orang Ch'iang atau Ch'iang-min (sekitar 250 ribu orang, 1920)
Bermukim di Propinsi Sechuan, Cina bagian barat, di daerah pegunungan sebelah barat Sungai Min, dekat perbatasan Tibet [Thomas Torrance "The History, Customs and Religion of the Ch'iang People of West China" (1920) dan "China's First Missionaries: Ancient Israelites" (1937)]. Mereka menganggap diri sebagai imigran dari barat yang datang ke tempat tersebut setelah berjalan selama tiga tahun tiga bulan. Orang Cina menganggap mereka sebagai barbar, dan mereka menilai orang Cina sebagai penyembah berhala (Ch'iang-min percaya hanya pada satu tuhan dan menyebutnya `Yawei' ketika berada dalam kesulitan). Ch'iang-min mempraktekkan persembahan korban yang dilakukan imam, jabatan yang hanya bisa dijabat oleh pria yang sudah menikah (Im 21:7,13) dan diwariskan turun-temurun.
Para imam mengenakan jubah putih bersih dan bersurban khusus. Mezbah dibuat dari batu yang tidak dipotong dengan alat logam (Kel20:25), dan tidak boleh didekati oleh orang asing dan "cacat" (Im21:17-23). Para imam Ch'iang-min menggunakan tali pengikat jubah, dan sebatang tongkat berbentuk seperti ular (kisah Musa di gurun). Setelah berdoa, para imam membakar bagian dalam dan daging korban sembelihan, dan mengambil bagian pundak, dada, kaki dan kulit, sementara dagingnya dibagikan kepada pemberi persembahan. Saat persembahan, mereka mengibarkan 12 bendera di sekitar altar untuk menjaga tradisi bahwa mereka berasal dari satu bapak yang memiliki 12 anak. (Mereka bertradisi sebagai keturunan Abraham dan berleluhur seorang bapak dengan 12 anak). Di antara orang Ch'iang, terdapat tradisi mengoleskan darah pada ambang pintu demi keselamatan dan keamanan rumah, pernikahan ipar, tudung kepala bagi wanita, memberi nama anak pada usia 7 hari hingga menjelang malam ke-40.
Dari beberapa sumber, sebagian telah dikemukakan di atas
Wassalam
HMNA
----- Original Message -----
From: Ari
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Sent: Saturday, December 03, 2011 2:18 PM
Subject: Re: [wanita-muslimah] Khilafah tidak ada dalam Al-Quran?
kalau sebutan yusufzay di kalangan orang pasthun di afghan banyak tuh.
makanya sampai ada yang bilang orang pashtun ini justru salah satu suku
israel yang hilang.
lucunya mereka jadi muslim puritan saat ini. hehehehe :D
http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_of_Pashtun_descent_from_Israelites
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment