Tambahan:
Lagi-lagi ttg Thaliban, dalam hal ini sehubungan dengan pandangan Sarlito Wirawan Sarwono.
**************************
BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
497. Sarlito W Sarwono Menulis Asal Menulis tentang Thaliban
Demi keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam kolom ini setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila pembaca merasa "terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui, langsung ke cara membacanya saja.
Sarlito W Sarwono itu guru besar UI menulis di Suara Pembaruan (11 Okt 2001) tentang Thaliban spb: Tahukah kita siapa Taliban itu? Tahukah kita siapa orang-orang yang tiba-tiba kita jadikan idola itu? Rasanya di antara yang berunjuk rasa itu tidak banyak yang tahu. Saya pun tidak. Akan halnya negara Afghanistan sendiri, sekarang dikuasai kaum Taliban, yang mengusir kaum Mujahiddin (pejuang-pejuang melawan penjajahan Rusia) dari Kabul, membunuhi pimpinan mereka, dan melarang para wanita yang keluar dari rumah tanpa muhrim sehingga banyak janda dan anak-anaknya mati kelaparan karena tidak bisa bekerja dan perempuan yang sakit mati karena tidak dapat diobati oleh dokter yang semuanya laki-laki (padahal bangsa Indonesia selamanya mati-matian membela hak asasi wanita). Sementara itu, kaum Mujahiddin yang selama ini terdesak ke bagian utara Afghanistan sudah menggerakkan tank-tanknya menuju Kabul untuk merebut kembali ibukota itu. Jadi umat Islam sendiri sedang saling bertikai. Kalau para pengunjuk rasa Indonesia dengan fanatik mengatakan bahwa mereka mendukung umat Islam, pertanyaannya adalah umat Islam yang mana yang dimaksud?
***
Sarlito Wirawan, anda mengaku tidak mengerti tentang Thaliban, mengapa sesumbar berkomentar tentang Thaliban?. Beranikah anda bersumpah DEMI ALLAH bahwa apa yang anda komentari tentang Thaliban itu adalah benar? Anda telah mengumbar issue murahan tentang Thaliban, sanggupkah anda berhadapan dengan hisab Allah di Hari Pengadilan kelak? (Itu kalau anda beriman kepada Hari Kemudian).
Firman Allah SWT:
-- WLA TQF MA LYSLK BH 'ALM AN ALSM'A WALBSHR WALFWaAD KL AWLaK KAN 'ANH MSaWLA (S. BNY ASRAaYL, 36), dibaca: walaa taqfu maa laysa laka biHii 'ilmun, innas sam.'a walbashara, walfuaada, kullu ulaaika kaana 'anHu mas.uulaa (s.banii israaiil), artinya:
-- Dan janganlah engkau memperturutkan (prasangka) yang engkau tidak tahu seluk-beluknya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan rasio, kesemuaya itu akan ditanya (oleh Allah SWT di Hari Pengadilan.
Apakah anda tahu tentang Aliansi Utara yang komunis? Anda tahu siapa Rasyid Dustum? Anda tahu apa dan siapa itu Khalq dan Parcam? Betul-betul anda sangat naif dengan komentar anda yang dikunci dengan pertanyaan sbb: "Sementara itu, kaum Mujahiddin yang selama ini terdesak ke bagian utara Afghanistan sudah menggerakkan tank-tanknya menuju Kabul untuk merebut kembali ibukota itu. Jadi umat Islam sendiri sedang saling bertikai. Kalau para pengunjuk rasa Indonesia dengan fanatik mengatakan bahwa mereka mendukung umat Islam, pertanyaannya adalah umat Islam yang mana yang dimaksud?" Sebenarnya walaupun anda mengaku bodoh kurang tahu tentang Thaliban, orang bebalpun tahu bahwa pengunjuk rasa itu tentu mendukung ummat Islam yang dibom Amerika. Anda seorang guru besar, mengapa berlogika bengkok begitu!
Boleh jadi anda mengutip dari sumber berita sekunder yang berita primernya berasal dari NGO internasional yang berkecimpung dalam "pemberdayaan perempuan" spb: "In fact, even as Taliban declare the keeping of caged birds and animals illegal, they imprison Afghan women within the four walls of their own houses. Jehadi fundamentalists such as Gulbaddin, Rabbani, Masood, Sayyaf, Khalili, Akbari, Mazari and their co-criminal Dostum have committed the most treacherous and filthy crimes against Afghan women. And as more areas come under Taliban control, even if the number of rapes and murders perpetrated against women falls, Taliban restrictions --comparable to those from the middle ages-- will continue to kill the spirit of our people while depriving them of a humane existence. "Jehadis were killing us with guns and swords but Taliban are killing us with cotton."
Sebenarnya selain issue miring mengenai perlakuan Thaliban terhadap perempuan (Taliban imprison Afghan women within the four walls of their own houses), ada tiga issue miring lainnya, yaitu: Pengungsi, Patung Budha dan Opium. Banyak penduduk Afghanistan yg tidak tahan atas perlakuan rejim Thaliban, sehingga mereka mengungsi dan berusaha mengungsi ke negara-negara lain seperti Iran, Pakistan, dan juga Australia. Pemerintahan Thaliban menghancurkan patung-patung Budha, sampai-sampai Kofi Anan turun tangan. Salah satu penghasilan dari kelompok Thaliban ini adalah dari ladang opium yg merupakan ladang opium yg terbesar di dunia.
Insya-Allah ini akan diklarifikasi dalam seri yang akan datang. Secara logika sehat tentu klarifikasi itu tidak dirujuk kepada Amerika, ataupun Aliansi Utara yang komunis, melainkan kepada yang menderita issue miring, yaitu dari Thaliban sendiri, melalui Duta Besar Keliling Pemerintahan Thaliban, Sayyid Rahmatullah Hashemi, yang memberi ceramah di LosAngeles 6 bulan sebelum terjadinya serangan atas WTC-Pentagon. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 28 Oktober 2001
[H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2001/10/497-sarlito-w-sarwono-menulis-asal.html
----- Original Message -----
From: "H. M. Nur Abdurrahman" <mnur.abdurrahman@yahoo.co.id>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Saturday, December 24, 2011 12:13 PM
Subject: [wanita-muslimah] Profesor Psikolog UI Itu Akhirnya Mengakui Dirinya Tidak Paham Islam
Profesor Psikolog UI Itu Akhirnya Mengakui Dirinya Tidak Paham Islam
Jakarta (voa-islam) - Psikolog Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono dalam sebuah diskusi yang digelar BNPT, saat peluncuran buku Mereka Bukan Thagut di Hotel Sahid, Jakarta, beberapa waktu lalu (17/12), akhirnya mengakui kelemahan dirinya yang tidak memahami Islam secara utuh.
Seperti diketahui, Sarlito Wirawan ikut melibatkan diri dalam membina narapidana kasus terorisme. Beberapa pondok pesantren juga ikut melibatkan diri, bekerjasama dengan para psikolog untuk "meluruskan" kembali pemahaman soal Jihad. Bahkan, Sarlito kerap melempar stigma-stigma buruk terhadap identitas Islam, mulai dari sikap paranoidnya terhadap ikhwan muslim berjenggot, celana ngatung, hingga pemahaman soal jihad.
Akibat analisisnya yang ngawur membahas isu deradikalisme dan terorisme, Sarlito mendapat banyak kritik dari kalangan aktivis Islam, tak terkecuali para pengamat teroris dan civitas akademik UI itu sendiri. Untungnya, ia sudah menyadari, bahwa wawasannya soal keislaman dan peta pergerakan Islam masih sangat dangkal, dan perlu banyak mengaji dan mengkaji lebih dalam.
Ketika mendengar pembahasan soal thagut, Sarlito yang sering bicara soal deradikalisme dan terorisme itu, mengaku mendapat pencerahan dan wawasan baru soal keislaman. "Saya ini awam kalau soal Islam begini, minggu lalu saya menulis di Koran Seputar Indonesia (Sindo) tentang thagut. Saya kira tulisannya thogut, ternyata thagut. Tapi yang jelas, saya mengerti hal-hal ini, seperti thagut dan jihadis justru dari kalangan ikhwan, termasuk dari Ustadz Abu Rusdan," ujarnya tersenyum.
Bukan Monopoli Ikhwan
Sarlito tak memungkiri, akan selalu ada pihak-pihak atau kelompok yang tidak puas dengan pemerintah. Sebagai contoh, seorang mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) bernama Sondang Hutagalung yang membakar dirinya di depan Istana Negara beberapa waktu lalu, adalah ekspresi kekecewaan masyarakat yang kecewa dengan pemerintah saat ini.
Di Papua, masyarakat bergejolak menuntut keadilan. Di Lampung, kelompok masyarakat menggugat pemerintah atas kebiadaban aparat yang membantai warga Mesuji, terkait konflik lahan perkebunan yang dikuasai pihak perusahaan.
"Jadi, kekecewaan itu bukan hanya monopoli para ikhwan saja, yang sampai menyebut pemerintah itu thagut. Yang pasti, saya belum melihat ikhwan membakar diri seperti Sondang. Tapi kalau bom bunuh diri sudah. Itu semua adalah cerminan dari ekspresi masyarakat yang tidak puas,"tukas Sarlito.
Sarlito mengajak rakyat Indonesia untuk bersama-sama menggalang pesan damai dan hentikan segala bentuk kekerasan. Ia yakin, dengan pintu dialog, meskti tidak ada kesepakatan, suatu saat nanti akan bertemu juga. "Bicara soal Pemanasan Global saja baru terjadi kesepakatan setelah melalui beberapa generasi. Tapi saya hanya mendambakan Indonesia yang damai dan bersatu. Itu saja," harapnya tulus.
Jika ada kelompok yang mengatakan, NKRI harga mati, maka kelompok Islam juga akan mengatakan, Islam harga mati. Setidaknya, perang kata ini tidak boleh ada darah yang tumpah sesama anak bangsa. Desastian
http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/22/17138/profesor-psikolog-ui-itu-akhirnya-mengakui-dirinya-tidak-paham-islam/
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment