Refleksi : Menikah beda suku bukan masalah besar, tetapi agaknya kawin antar orang berbeda agama bisa repot, bukan saja duniawi tetapi surgawi karena langit bisa berwarna hitam, demikian menurut ahli dan pendekar ilmu langitan. Hehehehe.
Bagaimana kalau kawin beda agama, beda bangsa, apakah repot?
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=77912:salahkah-menikah-beda-suku&catid=78:umum&Itemid=131
Salahkah Menikah Beda Suku?
Oleh : Hendy Yang
"Berbeda-beda tetapi satu juga." Itulah bunyi slogan Bhineka Tunggal Ika pertanda pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki manusia dengan banyak perbedaan. Indonesia patut dan harus berbangga pada slogan tersebut.
Penerapan Slogan Agung ini haruslah terjadi pada setiap liku kehidupan di Indonesia. Namun Burung Garuda Sang Pencengkram Slogan Agung ini tampaknya harus kembali menanyakan keampuhan Bhineka Tunggal Ika apabila mengusik tentang pernikahan berbeda suku. Apa sebab?
Kita tahu bersama Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak perbedaan. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah perbedaan suku. Kini, Indonesia telah hidup bukan terpisah satu suku dengan lainnya. Suku-suku tersebut kini telah membaur. Pembauran itu tentu saja juga dapat menimbulkan rasa saling suka di antara para kaum mudanya. Rasa suka ini kemudian berlanjut ke hubungan yang serius. Ini hal yang lumrah saja bukan? Semua manusia dapat mengalaminya.
Namun hal yang tak lumrah ini adalah para anak muda harus menemui akhir kisah cinta itu sebelum waktunya. Mereka harus berhenti bermimpi untuk menikah dengan alasan: orang tua kedua atau salah satu pihak tidak merestuinya. Alasan orang tua tersebut tentu jelas dan bahkan sangat jelas: BEDA SUKU. Buyarlah semua mimpi indah sepasang anak muda tersebut.
Sekarang, kita tentu harus dan patut meninjau kembali alasan banyak orang tua tersebut yang menghancurkan kisah cinta banyak pasang anak muda tersebut. Beda suku. Tentu ini merupakan alasan yang sangat tepat dan dapat diterima di masa lalu.
Ya, masa lalu, suatu suku menjadi sesuatu yang paling utama. Maklumlah, belum ada Nusantara pemersatukan suku-suku tersebut. Pemerintahan yang mereka kenal mungkin juga hanyalah kepala suku dengan Suku-suku banyak yang hidup berkerumun di suatu wilayah. Wilayah tersebut disakralkan hanya untuk suku tersebut. Harga diri dalam suku tersebut sangat tinggi. Perang demi mempertahankan harga diri merupakan hal yang lumrah saja terjadi antar suku.
Orang-orang dalam suku tersebut tentu saja memiliki fanatik yang tinggi terhadap sukunya. Tidak salah, pernikahan beda suku dapat saja menjadi suatu aib atau penghinaan karena harus mencampur darah murni sukunya dengan suku lain.
Namun kondisi kini telah berbeda. Kesukuan masih ada tapi tidak lagi menjadi yang utama. Nasionalislah yang utama. Perang antar suku sudah jarang sekali kita dengar. Suku-suku yang ada pun tidak lagi tinggal dalam suatu rumpun yang khusus. Suku-suku telah berbaur menjadi satu dengan yang lainnya.
Ingin bukti? Lihatlah perumahan di sekitar Anda yang cenderung dapat menjumpai orang-orang dengan berbagai suku. Orang dari berbagai suku telah dapat saling hidup bersama sebagai masyarakat yang rukun. Bhineka Tunggal Ika juga telah lama dikumandangkan tanda Indonesia ini mengundang suatu masyarakat yang nasional bukan sekedar kesukuan.
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pemikiran sebagai masyarakat suku harus kita hapuskan dari memori pikiran kita. Justru sebaliknya, kesukuan menjadi suatu kekhasan Indonesia yang harus tetap dipertahankan. Ini dapat menjadi kekayaan bagi Indonesia.
Namun beberapa tradisi dalam suku tersebutlah yang harus ditinjau. Tradisi tersebut lahir dari zaman yang berbeda. Ingat! Kondisi suku zaman dulu yang melahirkan tradisi itu (paragraf lima). Memang ada tradisi yang masih baik untuk dikerjakan sampai sekarang. Namun beberapa tradisi tersebut juga tentu tidak lagi baik atau sesuai untuk diteruskan sampai saat ini. Salah satunya adalah larangan pernikahan beda suku.
Larangan pernikahan beda suku tentu saja tidak lagi sesuai diterapkan di Indonesia zaman kini. Kondisi kini telah berubah. Indonesia telah menjadi suatu negara kesatuan dengan orang berbagai suku dalamnya. Suku-suku pun banyak yang sudah tidak hidup dalam satu lingkup saja melainkan sudah berbaur satu dengan yang lainnya. Hidup bersama dengan derajat yang sama. Tidak ada suku yang punya derajat yang lebih tinggi atau rendah. Di bawah satu bendera, Merah Putih, semua suku bangsa yang ada di Indonesia telah sama derajatnya. Karena itu, arogansi kesukuan juga harus dikurangi.
Pernikahan beda suku juga harus dipandang sebagai sesuatu yang wajar saja terjadi sekarang ini. Sekolah sudah dihuni oleh orang-orang dari berbagai suku. Kampus dan tempat kerja juga mengalami kondisi pemajemukan yang sama. Rasa ketertarikan yang muncul dari sepasang kaum muda adalah hal yang lumrah saja. Mengapa harus dikekang lagi? Hai para orang tua, ubahlah sedikit pola pikir! Coba sesuaikan tradisi-tradisi yang ada dengan konteks masa kini. Jangan takut juga, suatu suku tidak akan menjadi punah hanya karena ada segelintir persen anak mudanya yang melangsungkan pernikahan berbeda suku!
Namun pernikahan beda suku yang terjadi tentu juga jangan sampai menghilangkan khas dari salah satu suku bangsa tersebut. Misalnya, seorang China menikah dengan seorang dari suku Batak. Jangan sampai kechinaannya hilang total berganti Batak begitu juga sebaliknya.
Seorang tetap dapat menjadi sukunya sendiri saat menikah dengan orang dari suku lain. Setiap perbedaan dalam suku tersebut tentu saja tidak perlu langsung ditiadakan. Perbedaan tersebut dapat disinergikan. Jika hal itu terjadi, tentu saja akan sangat menambah kekayaan dalam keberagaman di Indonesia.
Biarlah dengan wajarnya pernikahan beda suku di Indonesia, Bhineka Tunggal Ika benar-benar teresapi sampai ke dalam aspek pernikahan-pernikahan yang ada di Indonesia. Keberagaman tetap menghiasi Indonesia namun tetap dalam suatu kesatuan. Merdeka!
Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk Hogla Tati Marbun.***
Penulis adalah Pemerhati Sosial Politik.
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment