Sumber:
http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/01/04/hanya-ada-satu-kata-lawan/
Hanya Ada Satu Kata: Lawan!
OPINI
oleh Odi Shalahuddin
| 04 January 2011 | 09:15
Seri lukisan untuk Thukul karya Yayak Iskra
Seruan di atas, pastilah bukan kalimat yang asing di telinga, terutama bagi
orang-orang yang pernah terlibat di dalam aksi-aksi jalanan. Di antara kita,
bisa jadi ada yang sering melontarkan seruan tersebut, tidak hanya dalam aksi,
mungkin juga dalam pertemuan-pertemuan atau dalam pembicaraan santai sambil
ngopi dengan beberapa kawan.
Seruan di atas, bersumber dari puisi "Peringatan" karya Wiji Thukul yang bernama
asli Wiji Widodo, yang dibuat pada tahun 1986.Sayang, kita tidak bisa membaca
atau mendengar puisi-puisi baru dari Wiji Thukul lagi. Hingga saat ini, kita
tidak tahu, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Tidak ada satu
pihak-pun bisa memberikan keyakinan mengenai statusnya. Ia masih masuk ke dalam
daftar 13 orang yang hingga saat ini masih dianggap sebagai korban penghilangan
paksa.
Pada periode 1996-1998, sejarah mencatat terjadi banyak kasus penculikan
terhadap para aktivis demokrasi. Sebagian diketahui meninggal, sebagian sudah
dilepas kembali, dan sebagian statusnya tidak diketahui.
Benarlah, mengutip almarhum Munir, salah satu perjuangan kita adalah melawan
lupa. Bangsa kita adalah bangsa pelupa. Berbagai tragedi, hadir, menyedot
perhatian, tapi setelahnya, berganti dengan tragedi-tragedi lain atau
hiruk-pikuk kemeriahan, sehingga yang sudah terjadi, terlewat dan terabaikan
kembali. Lantaran itulah, organisasi seperti Ikatan Keluarga Orang Hilang
(IKOHI). KONTRAS, dan berbagai elemen masyarakat lainnya tiada henti untuk
tetap mengingatkan kita pada orang dan peristiwa pencideraan Negara terhadap
warganya.
Ingatan tentang Wiji Thukul dibangkitkan kembali ketika saya menerima tag di
sebuah jejaring sosial atas lukisan-lukisan untuk poster (atau postcard) dari
Yayak Iskra atau Yayak Yatmaka. Yayak, seorang aktivis yang banyak bergerak
dan berjuang melalui gambar dan lagu (saya membuat tiga postingan mengenainya,
Di SINI, Di SINI, dan Di SINI) membuat beberapa gambar yang terkait dengan
Thukul, sebagian menjadi empat seri lukisan untuk Thukul.
Wiji Thukul, di manakah dirimu? (Gambar Karya Yayak Iskra)
Sayang, saya tidak mengenal Wiji Thukul dengan baik. Seingat saya, hanya dua
kali pernah bertemu dengannya di tahun 1990-1991. Di sebuah diskusi kebudayaan
di Solo dan saat bersama-sama para penyair dan aktivis membaca puisi di Gedung
Seni Sono (sekarang gedung ini sudah tidak ada, menjadi bagian dari halaman
Gedung Agung). Selebihnya saya mengenal hanya lewat karya-karyanya dan
cerita-cerita tentang aktivitasnya dari berbagai kawan atau melalui
tulisan-tulisan mengenainya.
Wiji Thukul bukanlah siapa-siapa. Lelaki kelahiran 26 Agustus 1963, anak
pertama dari tiga bersaudara, tinggal di sebuah perkampungan miskin di Solo
yang mayoritas orangnya bekerja sebagai buruh, tukang becak, kuli rendahan, dan
orang-orang yang bekerja serabutan, yang tidak pernah diperhitungkan oleh para
penguasa. Bapaknya sendiri bekerja sebagai pengemudi becak. Thukul sendiri
adalah seorang yang bekerja serabutan. Pernah bekerja sebagai loper Koran, calo
karcis bioskop dan menjadi tukang pelitur di perusahaan mebel.
Tapi, Wiji Thukul menulis. Ia menulis puisi. Menulis puisi yang menjadi
kesukaannya sejak ia masih SD. Ketika SMP ia mulai ikut teater. Ia aktif dalam
kelompok Teater Sapu Jagat. Ia tidak hanya menulis puisi, tapi juga membacakan
puisi-puisinya masuk keluar kampung. Ngamen puisi.
Lulusan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari ini, bersama
istri dan kedua anaknya juga membuat sanggar di kampung tempat tinggalnya.
Sanggar Suka Banjir namanya. Memfasilitasi anak-anak di lingkungannya untuk
menggambar dan berteater. Bukan untuk menjadikan anak-anak sebagai seniman.
Tapi itu pendekatan pendidikan agar anak-anak bisa berpikir dan bertindak
merdeka. Kritis terhadap realitas diri dan realitas lingkungannya.
Thukul sangat aktif menulis puisi. Puisi yang tampaknya oleh orang-orang sastra
dianggap bukan puisi. Puisi yang sama sekali tidak indah. Tidak membawa orang
pada kedamaian. Ia menulis tentang realitas dirinya. Menulis tentang realitas
orang-orang di sekelilingnya yang terpinggirkan dan suaranya dibungkam oleh
penguasa. Puisinya adalah suara. Suara hatinya dan suara orang-orang pinggiran.
Semuanya dinyatakan secara lugas dan tegas. Mudah dipahami oleh siapapun.
Orang-orang menyebut puisi-puisinya sebagai puisi protes. Tapi Dalam wawancara
dengan majalah Sastra 2 November 1994, ia mengungkapkan posisinya, "Saya bukan
penyair protes. Saya menyadari proses.Menulis puisi persoalannya selalu kembali
ke persoalan diri saya. Begitu saya drop out dari sekolah, saat itulah saya
sadar tentang arti hidup yang sebenarnya. Ada semacam pembenturan nilai. Yah,
setelah keluar sekolah, akhirnya saya harus memilih menjadi tukang pelitur.
Saya harus mengatur diri sendiri dan memilih mana yang baik dan tidak. Kalau
di sekolah yang baik sudah ditentukan, padahal itu belum tentu baik bagi kita."
Pernah saya mendapat cerita dari seorang kawan, pada akhir tahun 80-an atau
awal 90-an, ketika berlangsung pertemuan para sastrawan di Taman Ismail
Marzuki, bersama Halim Hade, Wiji Thukul membacakan dan membagi-bagikan
puisinya dalam bentuk stensilan di luar pertemuan. Ini salah satu bentuk
perlawanan menggedor kemapanan.
Semangat perlawanan, inilah yang kemudian menonjol dan melekat bersama dirinya.
Menggunakan media teater, ia melakukan pendidikan kritis bagi kaum buruh di
Solo. Ia hadir dan turut serta bersama kaum buruh melakukan aksi-aksi menuntut
perubahan. Pada aksi buruh di bulan Mei 1995 ia mengalami kekerasan dari aparat
keamanan yang membuat matanya hampir buta.
Seri Lukisan untuk Thukul, Karya Yayak Iskra
Berjuang memang tidak bisa sendiri. Wiji Thukul bersama beberapa kawannya
(seniman, aktivis mahasiswa, dan aktivis pro-dem lainnya) kemudian membentuk
dan mengembangkan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER). Ia juga bergabung
dengan Persatuan Rakyat Demokratik (yang kemudian menjadi Partai), dan pada
Kongres Pertamanya di tahun 1994 ia terpilih sebagai Ketua Divisi Budaya.
Gerakan bersama menentang rejim Soeharto, menemukan salurannya ketika terjadi
konflik internal di Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1996. Pro Soeryadi
yang didukung oleh pemerintah, militer dan para pengusaha membuat kongres
tandingan untuk menjegal Megawati yang naik sebagai Ketua PDI. Massa pendukung
Megawati Protes dan membuat aksi-aksi di Kantor PDI. Aksi ini didukung oleh
tokoh-tokoh oposisi. Pada tanggal 27 Juli 1996, aksi ini diserbu oleh preman
yang didukung aparat, yang menimbulkan reaksi sehingga terjadi kerusuhan. PRD
dituduh oleh pemerintah sebagai dalang kerusuhan yang berlanjut pada perburuan
dan penangkapan terhadap tokoh-tokoh PRD.
Pada periode itu pula, Wiji Thukul sebagai salah seorang yang diburu oleh
aparat keamanan menghilangkan diri. Semula ia masih membangun kontak dengan
keluarga dan kawan-kawannya. Terakhir kali ia masih membuat kontak pada tahun
1998. Selanjutnya, hilang tak berbekas. Pada periode 1996-1998, berbagai kasus
penculikan terhadap para aktivis berlangsung. Salah satu pelaku penculikan yang
kemudian terungkap adalah Tim Mawar dari Kopassus yang dipimpin Oleh Prabowo
Subianto.
Pada tahun 2000, hilangnya Thukul dilaporkan oleh keluarganya dan sejak tahun
itu pula Wiji Thukul resmi dinyatakan sebagai salah satu orang yang mengisi
daftar orang hilang.
Kegiatannya dalam kesenian membuahkan hasil dengan pemberian penghargaan
terhadapnya. Pada tahun 1991 ia memperoleh penghargaan Wetheim Encourage Award
yang pertama bersama penyair WS Rendra.
Kegiatan-kegiatannya dalam penulisan dan dibarengi dengan aksi-aksi nyata yang
gigih memperjuangkan kepentingan rakyat yang terpinggirkan mendapatkan
apresiasi dengan pemberian penghargaan "Yap Thiam Hien Award" pada tahun 2002.
Dewan Juri, yang terdiri dari Prof Dr Soetandyo Wignjosoebroto, Prof Dr
Azyumardi Azra, Dr Harkristuti Harkrisnowo, HS Dillon, dan Asmara Nababan
menjelaskan alasan mendasar sehingga mereka memilihnya, yaitu, karena ia
seorang reminder dan representasi orang yang tidak mengerti HAM secara
teoretis, tetapi aktif dalam memperjuangkannya.
Sebagai reminder, Wiji mengingatkan masih banyak orang yang hilang karena
alasan-alasan politik. Pengingatan yang dilakukannya memang suatu hal yang
pahit, tetapi harus perlu disampaikan, khususnya ketika pemerintah sudah tidak
berdaya lagi untuk melindungi rakyatnya.
Seri Lukisan untuk Thukul, karya Yayak Iskra
Sebagai orang yang aktif memperjuangkan HAM, ia pantas diberi penghargaan
karena tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi tentang HAM, berani
memperjuangkannya tanpa pamrih. Dalam perjuangannya, Wiji juga dikenal sebagai
orang yang tidak memunyai suatu lembaga khusus untuk memperjuangkan HAM, tapi
ia berjuang sendiri.
Sedangkan menurut Todung Mulya Lubis dari Yayasan Pusat Studi Hak Asasi
Manusia, yang juga menjadi salah satu pendiri Yap Thiam Hien Award, Wiji
terpilih karena melalui puisi-puisinya mengajak kaumnya-masyarakat yang
termarjinalisasi di Solo-untuk bangun memperjuangkan hak mereka yang asasi, hak
yang mereka miliki karena mereka manusia. Puisinya ditulis dengan bahasa yang
sederhana, oleh karena itu mudah dipahami oleh orang kebanyakan. Puisinya
bening, karena itu dengan mudah kita menangkap nilai yang ingin
dikomunikasikannya, yakni nilai-nilai kemanusiaan.
Puisi-puisi Wiji Thukul yang semula terhimpun dalam lima kumpulan buku puisi,
kini telah disatukan ke dalam buku: Aku Ingin Jadi Peluru. Buku ini diterbitkan
oleh Penerbit TERA, Magelang. Buku ini berisi 136 puisi yang dibagi atas lima
buku atau lima kumpulan puisi. Buku 1: Lingkungan Kita Si Mulut Besar berisi 46
puisi.. Buku 2: Ketika Rakyat Pergi berisi 17 puisi. Buku 3: Darman dan
Lain-lain berisi 16 puisi. Buku 4: Puisi Pelo berisi 29 puisi. Dan Buku 5: Baju
Loak Sobek Pundaknya berisi 28 puisi. Dalam catatan penerbit, Buku 5 merupakan
kumpulan sajak-sajak yang ditulis Wiji Thukul ketika ia berada di masa
pelarian.
Sekarang di manakah Wiji Thukul? Sungguh, kami semua menanti kepastiannya.
Yogya.04.01.11.
Bahan bacaan:
1.Christanty, Linda. Wiji Thukul dan Orang Hilang (di SINI)
2.Wikipedia. Widji Thukul (Di SINI)
3.Wiji Thukul, Penyair. (Di SINI)
4.Biografi Wiji Thukul (Di SINI)
——————————————————————————-
Beberapa puisi Wiji Thukul:
PERINGATAN
.
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
.
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
.
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
.
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
.
(Wiji Thukul, 1986)
…
SAJAK SUARA
.
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamaku
siapkan untukmu: pemberontakan!
.
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
…
BUNGA DAN TEMBOK
.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
.
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
.
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!
…
NYANYIAN AKAR RUMPUT
jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
.
kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment