LEBARAN
Oleh: KH. Dr. A. Mustofa Bisri
1 September 2011 05:56:29
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW bertanya kepada shahabat-shahabatnya:
"Tahukah kalian siapa itu yang disebut orang bangkrut?" Mereka pun menjawab,
"Kalau di kita, orang bangkrut ialah orang yang sudah tak lagi punya uang
dan barang."
Ternyata Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud lain. Terbukti beliau berkata:
"Sesungguhnya orang bangkrut di antara umatku ialah yang datang di hari
kiamat kelak dengan membawa pahala-pahala salat, puasa, dan zakat; namun
dalam pada itu sebelumnya pernah mencaci ini, menuduh itu, memakan harta
ini, mengalirkan darah itu, dan memukul ini. Maka dari pahala-pahala
kebaikannya, akan diambil dan diberikan kepada si ini dan si itu, kepada
orang-orang yang yang telah ia lalimi. Jika pahala-pahala kebaikannya habis
sebelum semua yang menjadi tanggungannya terhadap orang-orang dipenuhi, maka
akan diambil dari keburukan-keburukan orang-orang itu dan ditimpakan
kepadanya; kemudian dia pun dilemparkan ke neraka." (Dari hadis shahih
riwayat imam Muslim bersumber dari shahabat Abu Hurairah). Na'udzu billah
min dzalik.
Dari pernyataan Nabi Muhammad SAW tersebut, kita menjadi tahu betapa
pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama. Sering sekali kita
menyaksikan orang yang mengaku umatnya Nabi Muhammad SAW seperti sangat
mengandalkan amal ibadahnya bagi keselamatan dan kebahagiaannya di akhirat
kelak. Orang ini begitu yakin akan selamat dari neraka dan akan masuk ke
sorga karena dia merasa sudah melaksanakan sembahyang, puasa, zakat, dan
haji. Bahkan sering kita melihat orang yang seperti itu kemudian memandang
sebelah mata kepada orang lain yang dinilainya tidak setekun dia dalam
beribadah.
Sedemikian yakinnya orang yang mengandalkan amal ibadah ritualnya itu,
sehingga acap kali tidak menghiraukan orang lain dan tidak merasa perlu
menjaga hubungan baik dengan sesama. Maka kita menyaksikan setiap hari
seorang muslim dengan ringan melecehkan sesama saudaranya. Maka kita
menyaksikan seorang haji –bahkan hampir setiap tahun naik haji—yang
memperlakukan buruh-buruhnya secara tidak manusiawi. Menyaksikan orang yang
rajin puasa tapi sekaligus rajin memakan harta rakyat. Kita menyaksikan
orang yang rajin sembahyang sekaligus rajin merampas hak orang lain. Kita
menyaksikan ustadz yang rajin mengkhotbahi orang dan sekaligus memprovokasi
untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap sesama. Menyaksikan kelompok
orang beragama tanpa merasa bersalah melakukan tindakan sewenang-wenang
kepada hamba-hamba Allah karena merasa lebih benar dan lebih dekat
kepadaNya. Dan seterusnya dan sebagainya.
Melihat sabda Nabi Muhammad SAW di atas, nyatalah bahwa meskipun orang
pulang ke alam baka dengan membawa bekal banyak berupa ibadah-ibadah ritual,
bisa bangkrut bila tidak menjaga hubungannya dengan sesama. Ketika di dunia
banyak menyakiti dan merampas hak orang.
Maka sungguh bijaksana leluhur kita yang mentradisikan adanya halal-bi-halal
setelah ritual puasa Ramadan. Dengan puasa dan salat malam di bulan Ramadan,
diharapkan dosa-dosa yang langsung terhadap Allah, telah diampuni sesuai
sabda Rasulullah SAW, "Man shaama Ramadhaana iimaanan waihtisaaban ghufira
lahu maa taqaddama min dzanbihi.", Barangsiapa puasa Ramadan karena iman dan
mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah. "Man
qaama Ramadhaana…" Barangsiapa mendirikan ibadah di bulan Ramadan karena
iman dan mencari pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang sudah-sudah.
Setelah itu untuk menyempurnakan kefitrian kita sebagai manusia,
ditradisikanlah saling bersilaturahmi dengan tujuan utama untuk saling
memaafkan dan saling menghalalkan. Halal-bi-halal. Jangan sampai
kesalahan-kesalahan terhadap sesama manusia kelak menjadi ganjalan dan
menyita modal amal baik kita. Dengan demikian kita benar-benar lebaran,
lepas dari ganjalan-ganjalan dan terbebaskan dari dosa-dosa baik yang
langsung terhadap Tuhan maupun yang terhadap sesama hamba.
Sayangnya, di zaman modern ini, tradisi mulia lebaran dan halal-bi-halal
tersebut sudah semakin terkikis maknanya. Upacara 'mudik' yang terus
berlangsung pun, umumnya lebih merupakan ritual kangen-kangenan antar
kerabat sendiri. Tradisi 'open house' juga lebih merupakan kunjungan
silaturahmi seremonial bawahan kepada atasan. Tidak ada atau sudah jarang
ada silaturahmi seperti dulu yang secara khusus berniat melebur kesalahan
dan mencari kehalalan tanggungan yang terlanjur diperbuat terhadap sesama.
[]
KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar
Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
wanita-muslimah-digest@yahoogroups.com
wanita-muslimah-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/






0 comments:
Post a Comment