Tak Seindah Doa Mama (8) *Jual Gorengan demi Perut yang Keroncongan*
*SEBELUMNYA* Diceritakan, Romi yang baru saja lulus kuliah memutuskan
untuk meniah dengan Yuni, wanita pilihannya. Meski nyatris tidak disetujui
orangtuanya, pernikahan tetap berlangsung. Tak seindah yang dibayangkannya,
rumah tangga mereka diterpa keprihatinan karena Romi belum memiliki
penghasilan yang tetap. Bertahankan rumah tangga mereka. *Mosy Saeful
Yusuf*masih mengisahkannya untuk Anda.
*ROMI* menatap langit-langit kamar. Ditatapnya pula perut istrinya yang
semakin membesar. Tak lama kemudian Romi mengamati ijazah sarjana ilmu
jurnalistik yang belum jua mengantarkan cita-citanya untuk menjadi seorang
wartawan yang bisa leluasa melanglangbuana hunting berita. Padahal sudah
ratusan kali Romi melamar ke perusahaan atau kantor-kantor, tapi selalu
nihil tak ada panggilan.
Tanpa terasa kristal-kristal bening mengalir membasahi kedua belah pipinya.
Dalam kemurungan, dalam lautan keprihatinan, hati nurani Romi tiba-tiba
teringat Tuhan yang Maha Pengasih dan Pencurah Rahmat.
Malam itu jarum jam menunjuk angka 12. Terbit kesadaran Romi dan istrinya
untuk melaksanakan salat Isya yang sudah sekian lama tak pernah
dilakukannya. Keduanya lalu melaksanakan salat sunnat tahajud.
Ketika tertidur, Yuni bermimpi yang sangat jelas bahwa kemahirannya dalam
memasak kenapa tidak dicoba dijalankan untuk jualan goreng-gorengan.
Begitupun Romi yang bermimpi bahwa langkah berikutnya untuk menyambung hidup
adalah berjualan makanan goreng-gorengan.
Usai salat Subuh, Romi bergegas berangkat ke Pasar kemiri, Depok untuk
belanja yang akan diolah menjadi makanan goreng-gorengan. Ada pisang uli,
singkong, oncom, cabe rawit, wortel, kentang, terigu, minyak sayur dan
segala tetek-bengek bumbu penyedap.
Minggu pagi di awal bulan Juli, Romi mulai berjualan goreng-gorengan.
Kepalanya menyandang tampah berisi goreng risol, goreng pisang, gehu,
pastel, comro, misro. Lalu sambil melangkah, mulut Romi menawarkan
dagangannya, "Risol, risooooool. Pisang goreng, comroooooooo!"
Lantaran bumbu penyedapnya sangat terasa di lidah, usaha Romi jadi sangat
laris. Tidak sampai dua jam ia menjajakan jualannya di emperan Pasar
Perumnas Depok Lama, langsung habis. Sejak itu sarjana jurnalistik ini
dilabeli sebagai "Turis Dadakan" alias tukang risol dadakan yang jualannya
langsung laris-manis.
Memang risol buatan Yuni sangat renyah, enak di lidah. Itu sebabnya selain
laris dijual di Pasar Perumnas Depok Lama, banyak juga ibu-ibu yang pesan ke
rumah kontrakannya. Tetapi membuat kue risol juga tidak semudah menggoreng
pisang. Perlu kelsabaran dalam mengiris wortel, mengiris kentang dan lamanya
dalam membuat alas untuk digulung bersama adonan wortel dan kentang. Romi
dan Yuni seusai berjualan tanpa istirahat terus mengolah bahan gorengannya
terutama buat kue risol. Keduanya sering sampai jam 12 malam masih utak-atik
di depan penggorengan dan jam 3 pagi, Yuni sudah bangun untuk menggoreng
risol yang akan dijual di pasar, sementara Romi sibuk berbelanja untuk
pisang goreng, comro dan lain-lain.
Karena terlalu lelah dan sangat jarang mendapat kesempatan untuk
beristirahat, akhirnya Yuni jadi sering jatuh sakit. Terlebih daya tahan
tubuh Yuni terbagi dua dengan menyusui anaknya, Andre.
Karena terlalu seringnya sakit-sakitan karena terlalu capek, akhirnya Romi
memutuskan berhenti dari jualan risol dan gorengan lainnya. Pilihannya
adalah berjualan es cendol yang menurutnya tidak terlalu capek dalam
mengolahnya. Tapi disabarin beberapa minggu, usaha jualan cendol tak selaris
ketika jualan risol, bahkan tak jarang merugi karena kurang pembeli.
Kemudian Romi ganti berjualan celana hawai yang memang saat itu lagi musim.
Setiap pagi Romi menenteng kain yang berisi celana hawai, daster atau kaos
anak. Ia berjualan mengayuh kaki keliling Depok, Pasar Minggu, Pondok Labu,
bahkan sampai ke Parung. Tapi berjualan celana hawai dan daster pun lakunya
tidak seberapa sehingga untuk membayar kontrakan rumah dan belanja dapur
pun, Romi sering memakai modal usahanya yang penting dapur ngebul. Tetapi
lama kelamaan modal usahanya semakin menipis.
Romi dan Yuni lagi-lagi merenungi nasib yang semakin tak pasti. Usaha demi
usaha yang dijalani tak jua membuahkan hasil. Atas kebaikan sang adik, Denny
yang sudah bekerja di sebuah kapal niaga Jepang yang memberi pinjaman modal,
Ro mi bersama istri dan anaknya, Andre memutuskan untuk pulang kampung.
Tujuannya berjualan sembako.
Ibarat pepatah, sejauh-jauh punai melayang akhirnya pulang juga ke
kandangnya. Dan Romi pun beserta Yuni dan Andre benar-benar pulang kampung.
Ada yang sangat disesalkan Romi ketika tiba di kampung kelahirannya karena
selama ini ia belum sempat membuktikan keberhasilannya menjadi seorang
wartawan atau menjadi penulis di depan ayahnya, Ishak yang kini telah
berpulang ke rahmatullah.
Romi hanya menitikkan airmata saat ia berziarah ke pamakaman ayahnya yang
telah meninggal beberapa waktu lalu.
Menjalani usaha berjualan di kampung ternyata bukanlah hal yang mudah.
Selain saling menjual dengan harga serendah-rendahnya yang terkadang menjual
di bawah harga ( biar tekor asal kesohor) demi merebut pelanggan, juga
banyak diutang. Tak lama kemudian, usaha jualan sembako yang Romi jalankan
pun macet juga. Sangat beruntung Romi mempunyai adik sebaik Deny. Dikala
usahanya sedang buntung, Deny tetap bersemangat membantu kesulitan hidup
yang dialami sang kakak. Maka ketika Romi ada keinginan untuk mengojek, Deny
membelikannya sebuah sepeda motor second tapi masih dalam kondisi cukup
mulus.
Kebetulan pula, kini Yuni sudah bekerja menjadi perangkat desa di Desa
Kondang Jaya menggantikan Bu Sofi yang telah mengundurkan diri karena
menjadi TKW ke Timur tengah.
Hampir setiap selepas Isya, Romi dan Yuni mendatangi kantor desa untuk
mengetik tulisan di kantor Desa Kondang jaya yang sudah dilengkapi satu unit
komputer. (bersambung)**
--
Aldo Desatura ® & ©
Twitter = @desatura
YM = desatura
Facebook = hanjakal@gmail.com
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment