Kepahitan Beruntun Seorang Janda *Suami Meninggal, Si Sulung Terkena
Depresi*
*KISAH* ini dialami oleh Utiarsih, warga Jln. Siliwangi, Bandung.
Penderitaan yang dialaminya cukup pahit. Ia hidup pas-pasan dengan lima
orang anak. Suatu hari suaminya meninggal, disususl oleh anaknya yang nomor
empat. Belum reda penderitaannya, si Sulung yang baru bekerja tiga bulan
jars dirawat di rumah sakit jiwa karena depresi. Ia merasa tertekan karena
difitnah oleh teman sejawatnya hingga di-PHK. Bagaimana nasib Ny. Utiarsih?
*Ida Rukmana* menceritakannya kembali.
*AKU* hanyalah tamatan sekolah dasar dari keluarga yang hidup sangat
sederhana. Hidup di dunia bagiku selain ibadah pada Alloh SWT juga berupaya
patuh terhadap suami. Suamiku bekerja di sebuah perusahaan farmasi. Kami
dikaruniai lima orang anak. Suatu hari aku mengeluh karena gaji suami setiap
bulannya banyak potongan akibat pinjam dari bank untuk biaya anak sekolah.
"Mah jangan terlalu sering mengeluh. Gaji itu kan habis dipakai biaya
sekolah, jadi kebutuhan sehari-hari terseok-seok ya kita terima saja,"
katanya.
Ucapan itu rupanya terdengar oleh Asep, si bungsu, sehingga sejak saat itu
ia setiap pulang sekolah tidak langsung ke rumah, tapi jadi tukang parkir
motor. Hari Minggu ia memungut bola tenis di lapangan olahraga Sabuga
hasilnya dipakai membantu biaya sekolah dan membantu kami. Aku sedih melihat
si bungsu seperti itu.
Suatu hari entah keapa hati agak berdebar-debar, suamiku dari kantor belum
pulang juga. Ia baru datang selepas salat Magrib. Ia terlihat begitu capek.
"Mah, kakiku bengkak dan badan terasa lelah," ujarnya.
Aku segera membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa ternyata penyakit
suami ku komplikasi asam urat dan gejala jantung. Tentu saja aku kaget
karena seingatku suamiku tak punya latar belakang penyakit jantung. Suamiku
dirawat beberapa bulan di rumah sakit swasta hingga meninggal. Innalilahi
wainalilahi rojiun.
Setelah suamiku tiada aku mengurusi lima orang anak. Sewaktu suamiku
meninggal, Titin, anak kami nomor empat sudah mengandung tujuh bulan.
Setelah melahirkan Titin terserang liver lalu meninggal. Aku makin bersedih.
"Ya Allah mengapa ujian padaku berturut-turut. Mungkinkah aku banyak dosa?"
gumanku.
Kendati demikian semua aku terima dengan hati ikhlas. Hampir setiap usai
salat aku selalu berdoa untuk perubahan hidup ini. Aku merasa agak terhibur
oleh si sulung yang suka memberikan masukan padaku.
"Mak sudahlah jangan terus bersedih. Ayah dan Titin sudah meninggal sudah
waktunya saja, lebih baik kita doakan saja agar arwah mereka diterima Alloh
SWT," ungkapnya.
Setelah suamiku meninggal, beban hidupku semakin berat. Gaji pensiuanan
hanya bersisa Rp 200.000. Karena tidak cukup, terpaksa aku buka warung
kecil-kecilan. Alhamdulillah bisa jalan, namun baru juga enam bulan buka
warung jajanan anak, Ating, anakku nomor tiga terserang penyakit asma. Ia
membutuhkan banyak biaya pengobatan rawat jalan. Aku terpaksa menjual
sebagian perabotan rumah tangga, sementara warung ditutup.
Semasa hidupnya Ating terbilang aktif di mesjid, pernah jadi guru mengaji,
dan terbiasa baca Al-qur'an setiap hari. Bahkan ia sering mengajariku
membaca Al-qur'an. Namun belakangan Ating tak aktip lagi di mesjid, jarang
keluar rumah, padahal seharusnya di usia remaja itu masa-masa keindahan.
Ketika kutanya ia hanya mengatakan, "Malu." Aku cukup bingung sehingga
sampai sekarang pun oleh ku dibiarkan begitu saja. Tapi tetangga ada saja
yang mencemoohnya bahwa kami punya gadis jomblo, kuper, keluarga yang
mengisolasi diri di tengah masyarakat, dan yang sangat aku dituduh jarang
melakukan salat lima waktu.
Ya Alloh ujian apa lagi padaku ini? Tapi kembali si sulung menenangkan dan
memberi nasehat padaku agar aku tidak memikirkannya. Ya, Itang, si sulung
sebagai pengganti almarhum suami ku. Ia bekerja di suatu lembaga pendidikan
bagian teknisi, gajihnya cukup lumayan dan rajin menabung. Ia sudah punya
satu anak.
Badai mengguncang. Itang yang baru bekerja tiga tahun pun kena fitnah teman
sekerjanya. Ia dituding membawa seperangkat kabel di kantornya di malam
hari, sehingga ia dipanggil oleh kepala TU-nya dan langsung di-PHK. Karena
merasa tak punya dosa dan tidak kuat mentalnya dampaknya si sulung terkena
depresi. Pulang dari tempat kerja mendadak tak bisa bicara, tak ubahnya
sebuah patung. Aku dan istrinya menangis.
Itang sempat dibawa pada orang pintar di Garut dan di Cimahi, tapi tak
kunjung sembuh. Selang beberapa minggu istrinya pulang ke kampungnya di
Garut sambil membawa anaknya. Aku pun sangat heran mengapa setega itu?
Dengan diberi semangat sebagian tetangga si Sulung di bawa ke rumah sakit
Jiwa. Meski sempat mengamuk, ia mau dirawat di situ.Lengkaplah sudah
penderitaanku.
Berkat izin Allah Itang sudah boleh pulang dan berobat jalan. Ia sudah bisa
berkomunikasi dengan keluarga. Sesekali ia suka nanyakan anak dan istri,
"Mah di mana Jemi sekarang?"
Kukatakan padanya bahwa Jemi baik-baik saja. Tubuhnya sehat. Untuk sementara
dibawa ibunya ke Garut dan sebenatar lagi akan kembali.
"Mak, Ujang sekarang kan sudah sehat, Ujang dengan istri belum cerai. Ingin
berkumpul lagi dengan keluarga tapi Ujang sementara belum bisa menapkahi
keluarga," katanmya.
"Iya, Emak juga ngerti. Berdoa saja pada Allah agar mereka segera kembali
dan Ujang segera mendapat pekerjaan lagi," kataku.
Secara perlahan si Sulung mulai sembuh. Kini ia aktif di masjid. Sikapnya
terlihat semakin dewasa.
Aku menengadahkan setiap usai salat tangan. Aku berharap anak-anakku dapat
hidup dengan layak seperti orang lain. Biarlah penderitaan ini, cukup
buatku. Tidak usah mereka warisi. Aku yakin, suatu saat nanti Allah akan
memberi jalan.
"Mak, aku bawa gorengan!" ujar Asep, si bungsu. Tubuhnya basah kuyup. Ia
segera membuka pakaiannya yang basah. Dikeluarkannya pula isi tas : pakaian
seram dan buku yang juga basah. Ia menatapku sambil tersenyum.
Kupeluk dia erat-erat. Untuk saat ini ialah satu-satunya harapanku. Meski
aku tak tega melihat ia harus menjadi tukang parkir dan pemungut bola tenis.
Batinku mengucap, "Ya, Allah jadikanlah anak-anakku sebagai orang saleh,
bermanfaat buat dirinya dan orang lain, serta dapat hidup bahagia di dunia
dan akhirat. Aamiin." **
--
Aldo Desatura ® & ©
Twitter = @desatura
YM = desatura
Facebook = hanjakal@gmail.com
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata
[Non-text portions of this message have been removed]
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscribe@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejahtera@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelismuda@yahoogroups.com
Milis ini tidak menerima attachment.






0 comments:
Post a Comment